Meningkatkan Daya Saing Perusahaan Logistik Indonesia

March 8, 2019

Zaroni | ALFI Kompartemen Penelitian dan Pengembangan

Komponen utama logistik – transportasi, pengelolaan inventory, pergudangan, dan distribusi –
berperan penting dalam hampir semua sektor ekonomi dan industri. Logistik memungkinkan
material tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat untuk proses produksi. Fungsi logistik ini
dikenal dengan inbound logistics. Selain itu, logistik memastikan produk tersedia di toko-toko
pengecer dan pasar-pasar tradisional yang mendekati lokasi konsumen. Dalam dunia logistik,
fungsi ini dikenal dengan outbound logistics.

Nilai ekonomi logistik
Dalam ilmu ekonomi, logistik menciptakan nilai – sering disebut dengan utility, dalam bentuk place
utility, time utility, dan quantity utility.

Produk dan jasa meningkat nilainya bila dipasarkan ke tempat yang memerlukan. Nilai tambah
yang dihasilkan ini disebut place utility. Produk yang mampu menjangkau ke tempat yang
memerlukan, maka produk tersebut semakin tinggi nilainya. Produk tertentu melimpah
(oversupply) di suatu tempat, namun di tempat lain, terjadi kekurangan (shortage). Durian selalu
melimpah di Medan, Pontianak, Belitung, dan Jepara, sehingga harga durian di sana jauh lebih
murah dibandingkan di Jakarta atau Bandung yang supply duriannya kurang. Karenanya,
membawa durian dari Medan, Pontianak, Belitung, dan Jepara untuk dijual di Jakarta atau
Bandung, akan meningkatkan nilai tambah durian. Logistik berperan penting dalam meningkatkan
nilai tambah produk dan jasa melalui place utility.

Logistik menciptakan nilai place utility dengan cara memindahkan barang dari lokasi tempat
produksi ke lokasi tempat konsumsi. Logistik memungkinkan membawa produk ke pasar yang
lebih luas. Logistik mampu menyeimbangkan supply dan demand produk untuk mencapai harga
dan kuantitas pada kondisi equilibria.

Produk lebih bernilai bila tidak hanya tersedia di mana (where), namun produk juga bernilai kapan
(when) konsumen memerlukannya. Produk meningkat nilai ekonominya bila tersedia pada saat
yang tepat. Produk-produk fashion muslim, seperti sarung, hijab, baju koko, peci, dan sajadah
akan dibutuhkan konsumen pada saat ramadan atau menjelang lebaran idul fitri. Logistik
berperan penting dalam menyediakan produk pada waktu yang tepat. Karenanya, logistik mampu
menciptakan time utility.

Tidak cukup tempat (where) dan waktu (when) dalam menyediakan produk di pasar. Produk harus
tersedia di pasar dalam jumlah yang tepat. Dalam aktivitas manufacturing, ketersediaan material
dalam jumlah yang tepat menjadi penting. Overstock atas material merupakan pemborosan.
Sementara itu, material yang mengalami stockout juga menimbulkan masalah dalam proses
produksi. Akibatnya, produk tidak bisa dipasarkan dengan tepat. Logistik mampu memberikan
nilai tambah produk dan jasa melalui penciptaan quantity utility.

Aktivitas logistik
Aktivitas apa saja yang dilakukan logistik agar mampu menciptakan nilai tambah produk dalam bentuk place utility, time utility, dan quantity utility?

Logistik mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian aktivitas: transportasi,
pergudangan dan penyimpanan, pengepakan, penanganan material (material handling),
pengelolaan inventory, pemenuhan order (order fulfillment), peramalan permintaan, perencanaan
dan penjadwalan produksi, pengadaan material, layanan pelanggan, pemilihan lokasi pabrik,
distribusi, pengembalian barang, layanan penjualan, dan penghapusan (disposal) produk atau
material (Coyle, Langley, Novack, Gibson, 2017)

  • Transportasi. Umumnya, transportasi merupakan aktivitas yang paling penting dalam logistik.
    Hampir lebih dari 60% biaya logistik total adalah biaya transportasi. Transportasi
    mengintegrasikan secara fisik jaringan dan node dalam rantai pasokan melalui pemindahan
    material, suku cadang, dan produk jadi. Inti kegiatan transportasi mencakup penentuan jalur
    (routing), penetapan keberangkatan dan kedatangan (schedulling), dan penentuan moda
    transportasi.
  • Penyimpanan. Penyimpanan berhubungan dengan pengelolaan inventory dan pergudangan.
    Semakin banyak inventory yang disimpan, memerlukan pengelolaan pergudangan, mulai dari
    penerimaan, pengecekan inventory, penempatan (put away) di lokasi penyimpanan,
    pengambilan (picking) sesuai order, dan pemuatan barang untuk diangkut dan didistribusikan.
    Keputusan penting dalam penyimpanan antara lain menetapkan tingkat inventory, kebutuhan
    berapa banyak gudang, standar luas dan requirement gudang, lokasi gudang, dan lain-lain.
  • Pengepakan. Aktivitas logistik yang cukup penting adalah pengepakan. Selain memenuhi
    fungsi untuk melindungi produk dari kerusakan dan tetap menjaga kualitas produk,
    pengepakan akan memengaruhi proses handling produk pada saat transportasi dan
    penyimpanan. Saat ini, metode dan teknologi pengepakan dirancang untuk menurunkan biaya
    pengepakan, biaya transportasi, dan biaya penyimpanan. Densitas produk akan menentukan
    efisiensi penggunaan space dan kapasitas moda transportasi dan pergudangan. Insan logistik
    (logisticians) mulai lebih memerhatikan isu lingkungan dalam pengepakan, dengan
    penggunaan material yang ramah.
  • Material handling. Pemilihan teknologi dan jenis material handling menjadi pertimbangan
    dalam mendesain dan mengoperasikan pergudangan. Pemindahan barang dari gudang ke
    moda transportasi memerlukan material handling equipment (MHE) yang sesuai dengan
    kapasitas dan dimensi barang. Teknologi MHE semakin berkembang, mulai dari teknologi
    mekanik, semiotomasi, otomasi, dan robotic. Jenis MHE pun beragam, seperti conveyor, forklift
    truck, overhead cranes, dan ASRS (automated storage and retrieval system).
  • Peramalan permintaan. Peramalan permintaan (demand forecasting) menjadi aktivitas penting
    dalam logistik. Keakuratan dalam demand forecasting diperlukan dalam menentukan berapa
    dan kapan inventory diproduksi untuk memenuhi permintaan penjualan. Teknik demand
    forecasting telah banyak dikembangkan seperti simple moving average, weighted moving
    average, dan exponential smoothing.

  • Pengelolaan inventory. Sasaran utama dalam pengelolaan inventory adalah memastikan
    kecukupan tingkat stock dan keakuratan pemenuhan inventory. Untuk menjamin kecukupan
    tingkat inventory memerlukan monitoring dan segera melakukan order inventory untuk
    menghindari kehabisan stock. Sementara itu, keakuratan pemenuhan inventory memerlukan
    sistem informasi order dan keakuratan informasi status inventory. Dalam model bisnis edagang, pengelolaan inventory menjadi bagian penting dalam kegiatan fulfillment center.
    Penggunaan teknologi informasi diperlukan untuk tracking status tingkat stock inventory.
    Secara periodik dilakukan stock opname atau penghitungan inventory secara fisik, kemudian
    dibandingkan dengan data inventory.
  • Pemenuhan order. Logistik mencakup kegiatan pemenuhan order, mulai dari proses transmisi
    order baik secara manual maupun online, pemrosesan order, penyiapan order, dan pengiriman
    order. Pemenuhan order penting dalam logistik, mengingat dari aktivitas ini dapat diukur lead
    time, mulai dari transmisi order sampai barang diterima pelanggan. Dalam platform
    perdagangan online (e-dagang), pemenuhan order ini dikelola fulfillment center. Amazon,
    Alibaba, dan Lazada mengelola fulfillment center dalam proses pemenuhan order
    pelanggannya.
  • Procurement. Pertimbangan mengapa procurement menjadi bagian penting dalam aktivitas
    logistik, mengingat kuantitas total yang dibeli akan memengaruhi lead time dan biaya logistik.
    Contoh keputusan dalam procurement untuk membeli part dari Tiongkok untuk memenuhi
    kebutuhan produksi pabrik di Kudus, memerlukan lead time 7 s.d 10 minggu. Procurement juga
    memengaruhi tingkat stock inventory, holding cost, dan ordering cost. Pembelian dalam jumlah
    besar dengan frekuensi sedikit dalam setahun akan berimplikasi pada ordering cost rendah,
    namun holding cost tinggi karena menyimpan stock inventory dalam jumlah besar.
  • Perencanaan dan penjadwalan produksi. Manakala demand forecasting telah ditentukan,
    selanjutnya dilakukan perencanaan kebutuhaan sumber daya, seperti material, tenaga kerja,
    overhead pabrik untuk perencanaan dan penjadwalan produksi. Logistik berperan dalam
    menyiapkan material dan sumber daya lain yang diperlukan pada saat proses produksi.
    Ketersediaan material dalam jumlah dan waktu yang tepat merupakan tugas penting dalam
    logistik untuk perencanaan dan penjadwalan produksi.
  • Layanan pelanggan. Dari perspektif logistik, kegiatan layanan pelanggan berkaitan dengan
    layanan order, pengiriman barang, dan layanan purna jual. Diperlukan koordinasi dan
    pengendalian inventory untuk memastikan pemenuhan order pembelian dari pelanggan.
  • Pemilihan lokasi. Lokasi fasilitas pabrik, warehouse, dan distribution center penting dalam
    keputusan manajemen rantai pasokan dan logistik. Lokasi pabrik, warehouse, dan distribution
    center akan memengaruhi biaya transportasi. Pertimbangan pemilihan lokasi didasarkan pada
    analisis kuantitatif dan kualitatif.
  • Aktivitas logistik lainnya. Perkembangan terkini, cakupan kegiatan logistik semakin luas untuk
    memberikan nilai tambah bagi produk dan jasa, seperti pengelolaan pengembalian produk,
    reverse logistics, bahan sisa (scrap), dan penghapusan aset residu.

 

Outsourcing aktivitas logistik

Logistik memegang peran penting dalam organisasi. Pengelolaan logistik yang efektif akan
memberikan dampak dua hal yang menentukan daya saing perusahaan: layanan pelanggan dan
biaya. Ketersediaan stock, kecepatan dan keakuratan pemenuhan order, dan pengiriman produk
ke pelanggan secara tepat waktu menjadi faktor penting dalam layanan pelanggan. Demikian
pula, pengelolaan biaya transportasi, pergudangan, dan distribusi yang efisien akan memengaruhi
biaya produksi dan beban pokok penjualan, yang ujungnya harga jual produk.

Aktivitas logistik sangat kompleks. Memerlukan perencanaan, pengelolaan operasional, dan
pengendalian yang baik. Beberapa perusahaan memiliki kapabilitas dan keahlian yang memadai
untuk mengelola sendiri aktivitas logistiknya (in-house logistics). Namun, banyak perusahaan yang
mengalihdayakan (outsourced) aktivitas logistiknya ke perusahaan penyedia jasa logistik.

Apa faktor penting dalam keputusan outsourcing? Rushton, Croucher, dan Baker (2014)
mengatakan setidaknya ada dua keputusan penting dalam outsourcing. Pertama, keputusan apa
pertimbangan outsourcing? Kedua, bagaimana proses outsourcing dalam memilih perusahaan
3PL?

Umumnya pertimbangan outsourcing didasarkan pada tujuan:
– Pengurangan biaya logistik;
– Peningkatan kepuasan pelanggan;
– Peningkatan kecepatan layanan;
– Perbaikan manajemen rantai pasokan;
– Pengurangan staf;
– Peningkatan daya saing secara global;
– Peningkatan kompetensi inti;
– Mengatasi keterbatasan dalam pengelolaan logistik secara in-house.

Lebih jauh, Rushton, Croucher, dan Baker (2014) menjelaskan faktor-faktor penting dalam
pertimbangan pemilihan perusahaan 3PL, yaitu:
– Kualitas layanan;
– Kompetensi staf 3PL;
– Biaya;
– Kapabilitas jaringan layanan 3PL;
– Kapabilitas jaringan transportasi 3PL;
– Pengalaman operasional logistik di sektor industri tertentu;
– Kapabilitas layanan yang dedicated;
– Ukuran perusahaan 3PL;
– Fleksibilitas dalam shared-user.

Bagaimana memilih perusahaan 3PL? Capgemini (2017) melakukan riset 3PL memberikan
panduan pertimbangan dalam memilih perusahaan 3PL sebagai berikut:
– Layanan yang diberikan (jangkauan pelayanan, volume, dan layanan yang disediakan).
– Biaya dan metode penghitungan biaya (open book, gain share, penalti, kenaikan biaya/inflasi,
dll).
– Ketentuan dan persyaratan pengangkutan (terms of carriage), penerapan incoterms, dan
asuransi kerusakan/kehilangan kiriman.
– Kecepatan dan transit time.
– Kinerja dan keandalan layanan.
– Sistem informasi yang digunakan termasuk kemampuan untuk interfacing, adaptasi, dan
kolaborasi ICT yang dijalankan perusahaan.
– Layanan basic logistics dan value-added service yang diberikan.
– Aspek staf LSP, yang mencakup tanggung jawab, responsif, dan image secara keseluruhan.
– Pengelolaan reverse logistics.
– Pelaksanaan, penghentian layanan, dan kemampuan dalam fleksibilitas layanan pada
perubahan kondisi dari standar yang ditetapkan.
– Rekam jejak LSP dan referensi pelanggan.

Keputusan kedua dalam proses outsourcing adalah proses pemilihan perusahaan 3PL. Rushton,
Croucher, dan Baker (2014) memberikan panduan dalam pemilihan perusahaan 3PL sebagai
berikut:
1. Menentukan lingkup aktivitas yang akan di-outsource-kan.
2. Mengidentifikasi jenis layanan logistik yang dibutuhkan.
3. Mengidentifikasi potensi atau kandidat perusahaan 3PL.
4. Mengajukan RFI (request for information).
5. Menyiapkan dan menerbitkan RFP (request for proposal)
6. Evaluasi dan perbandingan 3PL
7. Pemilihan 3PL dan asesmen risiko
8. Implementasi atau go live
9. Manajemen relationship 3PL dan review kontrak.

Perusahaan penyedia jasa logistik
Penyedia Jasa Logistik (Logistics Service Provider) atau biasa disingkat LSP merupakan
perusahaan yang menyediakan jasa pengelolaan logistik. Ketika perusahaan menyerahkan
sebagian atau semua aktivitas logistik perusahaan ke LSP, maka perusahaan telah mengoutsource-kan aktivitas logistiknya ke LSP. LSP yang melakukan pekerjaan outsourcing aktivitas
logistik perusahaan/pelanggan dikenal dengan nama 3PL (third-party logistics).

Apa yang diharapkan dari pelanggan yang mengalihdayakan aktivitas logistiknye ke LSP?
Umumnya, pelanggan mengharapkan: biaya logistik rendah, jaminan kepastian ketepatan delivery
barang, layanan pelanggan yang responsif, tracking, dan lead time pengiriman yang pendek.

Peningkatan kinerja logistik dan penurunan biaya logistik nasional dapat dilakukan dengan
melakukan continuous improvement perusahaan-perusahaan penyedia jasa logistik nasional,
utamanya perusahaan 2PL dan 3PL.

Fokus continuous improvement dilakukan pada peningkatan kualitas layanan dan cost reduction
perusahaan penyedia jasa logistik. Peningkatan kinerja perusahaan penyedia jasa logistik
mencakup performance level (1) reliability, (2) responsiveness, (3) flexibility, (4) costs, dan (5)
assets management.

  • Reliability – peningkatan kinerja perusahaan penyedia jasa logistik nasional dalam
    memberikan layanan logistik kepada pelanggan dengan sasaran keberhasilan pengelolaan
    logistik perusahaan: tepat produk, tepat kuantitas, tepat waktu, tepat tempat, tepat kondisi
    dan pengepakan, dan tepat biaya. Ukuran kinerja reliability seperti Delivery Performance, Fill
    Rates, dan Product Order Fulfillment menjadi tolok ukur keberhasilan pengelolaan logistics
    dan supply chain
  • Responsiveness – kecepatan dan respon perusahaan penyedia jasa logistik dalam
    mengelola order cycle time dan response time pelanggan dalam menyediakan produknya ke
    pasar atau pelanggan. Order Fulfillment Lead Times menjadi salah satu ukuran kinerja
    responsiveness.
  • Flexibililty – meskipun perusahaan penyedia jasa logistik menjalankan proses bisnisnya
    dengan prosedur standar yang tinggi dan tingkat kepatuhan pada SOP yang ketat,
    fleksibilitas supply chain dalam merespon perubahan pasar untuk meningkatkan keunggulan
    kompetitif. Ukuran kinerja flexibility yang umumnya digunakan adalah Supply Chain
    Response Time dan Production Flexibility.

  • Costs – biaya total yang terkait dengan pengelolaan logistics dan supply chain. Ukuran
    kinerja supply chain costs yang menjadi tolok ukur keberhasilan pengelolaan logistics dan
    supply chain pelanggan antara lain: Cost of Goods Sold, Total Supply Chain Management
    Costs, Value-Added Productivity, dan Warranty/Returns Processing Costs.
  • Asset management – pengelolaan logistik pelanggan dengan sasaran untuk meningkatkan
    efektivitas aset pelanggan. Ukuran kinerja supply chain asset management efficiency
    mencakup Cash-to-Cash Cycle Time, Inventory Days of Supply, dan Asset Turn.

Inovasi layanan logistik

Layanan logistik yang diberikan perusahaan penyedia jasa logistik diklasifikasikan sesuai layanan
dan solusi yang diberikan. Meskipun istilah 3PL sering digunakan sehari-hari, namun sejatinya
ada beberapa bentuk pihak yang terlibat dalam pengelolaan logistik dalam konteks supply chain
perusahaan, mulai dari 1PL’s sampai 5PL’s (Capgemini, 2017):

  • 1PL – pengirim atau penerima produk melakukan transportasi dalam supply chain.
  • 2PL – penyedia jasa logistik asset-based. Umumnya perusahaan 2PL memiliki moda dan
    jaringan transportasi sendiri, seperti trucking, kereta api, pesawat udara, kapal laut, dan
    pipelines.
  • 3PL – perusahaan penyedia jasa logistik yang mengelola logistik pelanggannya. Perusahaan
    3PL menyediakan jasa logistik berupa transportation management (domestik, internasional,
    aset dan non-asset based), serta menyediakan value-added warehousing, dan distribution
    management.
  • 4PL – mengelola beberapa 3PLs, sehingga dikenal dengan perusahaan LLP (lead logistics
    provider). Perusahaan 4PL mengelola sebagian atau seluruh elemen supply chain
    pelanggan melalui penggunaan beberapa 3PL. Sebagai LLP, perusahaan 4PL menggunakan
    teknologi dan ICT yang advanced dan menyediakan layanan konsultansi stratejik untuk
    solusi logistik pelanggan.
  • 5PL – perusahaan yang melakukan konsolidator permintaan agregat volume dari beberapa
    perusahaan 3PL untuk memperoleh tarif yang paling murah dengan cara menawarkan
    volume dalam jumlah banyak (bulk volume).

Perusahaan 3PL menyediakan basic logistics service berupa transportasi, pergudangan, dan
distribusi. Selain basic logistics service, perusahaan 3PL memberikan layanan nilai tambah
berupa layanan customs, pengamanan kargo, dan asuransi kargo udara dan laut.

Layanan transportasi kargo mencakup transportasi kargo udara, kargo laut, angkutan darat dan
kereta api, serta intermoda dan multimoda transport. Penyedian layanan transportasi ini dilakukan
secara terdedikasi dan carrier. Umumnya layanan transportasi kargo memberikan fitur cargo
insurance, proof of delivery (POD), impor dan ekspor, customs clearance, dangerous goods, real
time tracking menggunakan GPS, dan customized report. Dari sisi waktu tempuh, tingkat layanan
transportasi kargo dibedakan menjadi layanan transportasi sameday, nextday, dan layanan certain
day sesuai kebutuhan pelanggan.

Layanan pergudangan dan distribusi memberikan layanan pengeloaan distribution center, stroge,
excess storage, cross-docking, trans-shipment, break bulk, inventory management, packaging,
labelling and product preparation, unit loads, product inspection, reverse logistics, last-mile
delivery, pergudangan untuk produk dengan temperatur terkontrol, dan merchandising. Layanan
pergudangan dan distribusi disediakan secara dedikasi atau ekslusif dan multi-user atau shareduser.

Operasional logistik sangat bergantung pada jenis item inventory dan sektor industri. Karenanya,
perusahaan penyedia jasa logistik perlu mempertimbangkan logistics requirement untuk setiap
jenis komoditi atau produk dan sektor industri. Segmentasi sektor industri yang dimasuki perlu
dipilih, seperti sektor industri: penerbangan, otomotif, bahan kimia, produk farmasi, barang
konsumsi, produk mode, industri dan rekayasa teknik, ilmu pengetahuan dan kesehatan, ritel, dan
produk teknologi.

 

Daya saing perusahaan logistik

Perusahaan penyedia jasa logistik nasional perlu membangun dan meningkatkan kualitas
relationship management dengan pelanggannya. Perusahaan penyedia jasa logistik perlu
memahami perspektif dan aspirasi pelanggan:
• Pelanggan menuntut kualitas layanan logistik yang superior.
• Pelanggan menuntut kepercayaan, keterbukaan, dan information sharing.
• Pelanggan menuntut inovasi solusi atas permasalahan logistics dan supply chain yang
mereka hadapi.
• Sistem IT yang capable dan andal.
• Pelanggan menuntut kejelasan service level agreements.
• Pelanggan menuntut service offering yang selaras dengan customer strategy dan
pemahaman industri pelanggan secara mendalam.

Penerapan dan pengembangan ICT (information and communication technology) dalam
pengelolaan logistics dan supply chain yang advanced, baik penerapan ICT untuk core logistics
service seperti transportation management system (TMS), warehouse management system
(WMS), freight management system (FMS), order management system (OMS), maupun
penerapan supply chain technology innovations seperti internet of things, mobile connectivity, dan
functional automation.

Inovasi dan pengembangan layanan logistik yang berbasis logistics & supply chain solution
menjadi kebutuhan pelanggan saat ini, tidak hanya layanan basic logistics services. Perusahaan
penyedia jasa logistik nasional perlu melakukan inovasi dan pengembangan layanan logistik
seperti reverse logistics, cross-docking, freight bill auditing and payment, transportation planning
and management, inventory management, product labeling, packaging, assembly, kitting, order
management and fulfillment, service part logistics, fleet management, information technology (IT)
services, supply chain consultancy services, dan customer service untuk memberikan solusi
supply chain management pelanggan.

Dalam konteks makro, menjadi tugas pemerintah untuk menciptakan iklim usaha sektor
perusahaan penyedia jasa logistik nasional agar efisien dan memiliki daya saing tinggi.
Penyediaan dan perbaikan kualitas infrastruktur logistik seperti jalan, pelabuhan, rel kereta api,
stasiun, terminal, teknologi telekomunikasi, dan lain-lain untuk meningkatkan kinerja layanan
perusahaan penyedia jasa logistik nasional, dan meningkatkan connectivity desa-kota, pusat, dan
hub logistik domestik dan international.

Perbaikan sistem dan prosedur birokrasi pemerintah, mulai proses perizinan, pengawasan dan
pembinaan, customs, perpajakan, perbankan, dan pasar modal, yang memungkinkan perusahaan
penyedia jasa logistik nasional mampu bersaing dengan perusahaan penyedia jasa logistik asing,
serta mendorong agar perusahaan penyedia jasa logistik nasional go to global market.

Tidak kalah penting, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi perusahaan
penyedia jasa logistik nasional melalui pengajaran dan riset keilmuan logistics dan supply chain
management, pendidikan vokasi logistik, dan sertifikasi perlu menjadi perhatian pemerintah untuk
membangun kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia dan organisasi sebagai “inti daya
saing” perusahaan penyedia jasa logistik nasional.